I'm the hottest thing since Global warming's Site ^0^

ReviewReviewReviewReviewReviewJoin the GangDec 10, '07 11:35 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Teens
Author:Ken terate

Masya 4JJl hukan....
bener² dah ni buku ga' nguatin bgt gitu,bener² worth the read...,pas bgt eke baca buku pas need that kinda laugh...dari si Rifai si jago masak,perawakan tinggi hitam,mata besar yg di 'pungut' ma keluarga tionghoa,dan 'mnrt dia' di jadiin babu pelayan restorannya,yang ternyata ga' bgt..bener² deh pas ketauan nyokapnya ada rokok sebatang di saku seragam pas lagi mo di masukin di mesin cuci,yg tadinya dia udh seneng² bakal di sidang dan di damprat di usir ehhh ma babehnya malah dikasih 15 ribu buat jatah rokok karena takut ga' punya uang saku buat itu(di tambah ceritain kisah lalu perjuangan bapaknya merintangi badai ekonomi) mulai saat itu akan di hitung uang 'nguli'nya per jam,dan sejak itu juga dia berenti ngerokok!!! seperti yg di ilustrasikan sebelumnya ketika anak² main dipohon dan tidak main air di kali bawahnya orang tua yg lewat bilang'syukur anda tidak main di kali karena itu berbahaya' langsung kan mereka main dikali...naonn deui heuheu..di tambah si Edwin yg belum jerawatan,bulu kaki ga' numbuh,dan belum mimpi basah ini ketar ketir klo dia bakal jadi homo,ditambah ga' bisa naik motor,selalu nulis diary sehari dua kali,nonton drama²nya Meg ryan dan pasti akan selalu nangis lagi walaupun udh tau story line nya dan lucu bgt persahabatan dia ma si Thomas yg dari balita tetanggaan dan TK bareng..dan saling berpikir 'kenapa sih dia selalu nguntit ke sekolah mana pun gw pergi' ah baca sendiri deh.. i'm not very good with words...

“Apa Dicky selalu sekonyol itu?” tanyanya.

Hah, bahkan ketika dia sudah sejauh empat ribu tahun cahaya dari Dicky, dia masih memikirkannya.

“Sekonyol apa?” tanyaku kering.

“Menjawab berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45 waktu ditanyai Pak Yanto….”

Huh, itu memang lucu, tapi norak. Pak Yanto, guru kimia kami, meminta Dicky untuk mengerjakan soal di papan tulis. Ternyata jawabannya salah. Pak Yanto bertanya, “Apa dasar jawabanmu itu?” Dicky dengan santainya menjawab, “Tentu saja dasarnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45,” Seluruh kelas terguncang karena tawa. Dasar Srimulat!

“Juga menelan kertas contekan?”

Oh, itu hanya karangan saja. Itu pasti kisah di kelas matematika. Kami sedang ulangan trigonometri yang rumusnya seabreg-abreg. Dicky membuat contekan di kertas kecil. Waktu guru kami sedang meleng, dia menjalankan aksinya membuka kertas itu dan mulai menyalin rumusnya. Sayangnya, atau untungnya guru kami tidak meleng terlalu serius. Dia curiga pada Dicky, kemudian berjalan ke bangkunya. Rifai tahu Dicky dalam bahaya. Dia buru-buru menyenggol Dicky. Dicky langsung waspada, dia membungkuk, meremas kertas contekannya dan menginjaknya, atau memasukkannya ke sepatu. Tapi jelas bukan menelannya. Mungkin versi menelan itu yang diceritakan pada Julia. Jelas itu bohong, apalagi bila sampai cerita bahwa setelah menelan kertas contekan itu dia tidak pernah lupa rumus trigonometri, kemudian berpikir akan menulis rumus logaritma, sebagai percobaan apakah dia juga akan ingat rumus logaritma bila menelannya.

“Juga membakar pantat…”

Ya ampun, kisah tidak mutu begitu juga diceritakan pada Julia. Apa sih yang ada dalam kepala Dicky itu? Bukan tepung bekatul kan?

Ini lelucon, entah siapa yang memulai, namanya pantat panggang. Caranya korek api gas dinyalakan kira-kira satu atau dua centi di bawah celana anak yang sedang nungging. Misalnya di pantat anak yang lagi duduk di bangku kantin tapi separuh pantatnya tidak menempel ke kursi, agak menggantung sedikit. Biasanya sih sebelum terbakar, mereka akan merasakan panas dan terlonjak. Kemudian ditertawakan. Nah, begitu. Biasanya si korban tak pernah marah-marah, tapi selalu merencanakan untuk balas dendam, bukan pada si pelaku karena si pelaku biasanya orang yang sangat hati-hati. Jadi kami berusaha supaya tidak pernah nungging. Misalnya waktu ngobrol di kelas, sebaiknya kami tak perlu mencondongkan tubuh kami ke meja dan membiarkan pantat kami bebas hambatan.

Aku tak tahu apa Dicky menceritakan lelucon terbesar dari permainan pantat panggang itu. Setelah pelajaran olahraga, Danil, begitu saja memakai celana seragamnya di atas celana olahraganya. Padahal,sumpah, celana olahraga kami begitu tebal, jadi aku tak tahu apa yang dipikirkan Danil sehingga memakai celana rangkap seperti itu. Waktu itu, dia berjongkok di tepi lapangan sambil makan mie ayam. Dan jongkok adalah posisi yang paling bagus untuk membuat pantat panggang, segera saja ia jadi korban. Sampai lama sekali, dia tidak juga melonjak dan membuat mie ayamnya berhamburan. Sampai si pelaku pegal—dan jarinya sendiri kepanasan. Sampai pantat Danil mengeluarkan asap! Semua panik. Dan tahulah kami sebabnya, celana dobel itu membuat Danil tak merasakan panas. Sama sekali, sampai celana seragamnya berlubang. Benar-benar berlubang!

Cerita itu tetap jadi rahasia di antara para cowok, namun bila beredar kadang versinya sudah berubah. Kulit bokong Danil kurang peka sehingga dia tidak merasakan panas. Dia juga nggak ngerasa waktu celananya sudah bolong dimakan api dan dari lubang celana itu ketauan kalau ternyata dia enggak pake celana dalam! Nah itu versi pantat panggang Danil tanpa celana dalam. Yang tentu saja tidak benar.

“Lucu sekali ya,” kata Julia.

Cewek, aku benar-benar tak mengerti. Itu norak bukan lucu. Tapi semua memang lucu, bila tidak terjadi padamu. Bayangkan saja rasanya baru minum coca cola lalu terlonjak kepanasan dan menyemburkan coca cola itu ke mana-mana. Tapi cewek memang selalu suka cowok yang seperti itu, yang membakar pantat, menelan kertas contekan, mengerjai guru, …

“Hai ini puisimu?” tanya Julia.

Ah, lho kok puisi itu sampai ke tangan Julia. Aduh, kenapa aku tidak mengawasinya dan ….

“Bukan, ini ada di kotak naskah masuk,” kataku. Blitz punya kotak naskah masuk, yang tentu saja, banyak kosongnya daripada isinya. Dan selalu ada aja saja yang iseng memasukkan bungkus permen, tisu, malah terakhir bekas kunyahan permen karet.

“Sentimentil sekali ya?” kata Julia lagi.

Nah untung aku tidak mengaku kalau itu buatanku.



Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help